ASAL
USUL DESA MLEKANG
Oleh:
Ita Indrianasari
Berdasarkan Peraturan Bupati Demak Nomor 50 Tahun 2025 Tentang Batas Desa di
Kecamatan Gajah. Batas Desa Mlekang adalah sebelah utara, berbatasan dengan
Desa Cangkringrembang dan Desa Tuwang Kecamatan Karanganyar, sebelah timur
berbatasan dengan Desa Sambung Kecamatan Gajah, sebelah selatan berbatasan
dengan Desa Mlatiharjo Kecamatan Gajah, dan sebelah barat, berbatasan dengan
Desa Mojosimo Kecamatan Gajah.
Desa Mlekang merupakan salah satu
desa yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan ajaran agama Islam di pulau
Jawa, khususnya di kota Demak sekitar abad ke15. Desa ini menyimpan banyak
cerita yang tidak hanya mengandung nilai - nilai sejarah, namun juga nilai –
nilai tradisi budaya yang turun temurun dari generasi ke generasi hingga saat
ini.
Berdasarkan hasil wawancara
dengan Bp Modhen (Ahmad Sakdullah, S.Pd.I) di balai desa Mlekang. Menurut
beliau berdasarkan dokumen desa dan dari cerita
yang ada di masyarakat Desa Mlekang secara turun temurun, asal-usul Desa
Mlekang bermula dari kisah seorang pengembara yang berasal dari daerah
Purwodadi. Pengembara tersebut merupakan anak dari seorang patih di sebuah
kerajaan di wilayah Purwodadi. Sang patih bernama Kanjeng Sunarto, yang
memiliki seorang putra bernama Mahesa Jenar, yang kemudian lebih dikenal oleh
masyarakat sebagai Mbah Klawu.
Mahesa Jenar dikenal
sebagai sosok yang gemar pepergian atau mengembara. Dalam perjalanannya, ia
meninggalkan tanah kelahirannya dan berjalan jauh hingga sampai di wilayah
Demak. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya beliau singgah di suatu
tempat yang pada masa itu masih berupa hutan belantara yang lebat dan belum
berpenghuni. Tempat tersebut dikenal dengan nama Mbeketo.
Di tempat inilah Mbah Mahesa
Jenar memutuskan untuk menetap sementara. Ia melihat potensi besar pada wilayah
tersebut meskipun masih berupa hutan yang sangat lebat. Dengan tekad dan
semangat yang kuat, Mbah Mahesa Jenar mulai membuka lahan. Ia menebangi
pepohonan dan membabat hutan tersebut. Cara yang digunakan saat itu adalah
dengan membakar sebagian hutan untuk membuka lahan pertanian. Dari hasil
usahanya tersebut, perlahan-lahan terbentuklah lahan yang bisa ditanami dan
juga bisa dihuni.
Seiring berjalannya
waktu, lahan yang telah dibuka mulai menghasilkan. Tanah yang subur menarik
perhatian orang-orang dari daerah lain untuk datang dan menetap. Jumlah
penduduk semakin lama semakin bertambah, dan wilayah tersebut pun mulai
berkembang menjadi sebuah perkampungan kecil yang kemudian berkembang menjadi perdukuhan.
Salah satunya Dukuh Klantangan, yang sekarang dikenal dengan nama Dukuh
Klantang. Dukuh ini dihuni oleh seorang sesepuh yang bernama Mbah Gajeh. Ia
dikenal oleh masyarakat sebagai sosok yang bertubuh gemuk dan memiliki wibawa.
Kehadirannya turut membantu perkembangan wilayah tersebut, baik dari segi
sosial maupun kehidupan bermasyarakat.
Seiring dengan
perkembangan wilayah, Desa Mlekang kemudian terbagi menjadi beberapa dukuh.
Tercatat ada empat dukuh utama, yaitu Dukuh Jungkamal, Dukuh Jungsemi, Dukuh
Mlekang, dan Dukuh Klantang. Masing-masing dukuh memiliki cerita dan latar
belakang tersendiri yang berkaitan dengan proses terbentuknya desa tersebut.
Konon, ketika proses
pembakaran hutan dilakukan untuk membuka lahan, api yang menyebar tidak hanya
membakar wilayah sekitar, tetapi juga merambat hingga ke seberang sungai. Di
wilayah seberang tersebut, terdapat sekelompok orang dari negeri China yang
telah lebih dahulu menetap. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki
banyak harta benda. Karena keberadaan orang-orang tersebut, wilayah itu
kemudian dikenal dengan nama Dukuh Jungkamal.
Sementara itu, wilayah
lain yang letaknya agak jauh dari pusat permukiman Mbah Mahesa Jenar memiliki
kondisi yang berbeda. Karena luasnya wilayah dan keterbatasan tenaga, tidak
semua lahan dapat dikelola dengan baik. Namun, di bagian ujung hutan tersebut,
tanaman-tanaman liar terus tumbuh dan bersemi. Oleh karena itu, wilayah tersebut
kemudian dinamakan Dukuh Jungsemi. Dukuh Jungsemi kemudian dikelola oleh
seorang tokoh agama yang berasal dari daerah Pati, yaitu Mbah Yai Amir.
Kehadiran beliau membawa pengaruh besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan
masyarakat setempat.
Seiring waktu, seluruh
dukuh yang ada akhirnya bergabung menjadi satu kesatuan wilayah yang dikenal
sebagai Desa Mlekang. Desa ini memiliki ciri khas berupa sebuah sungai yang
membelah wilayahnya menjadi dua bagian, yaitu Mlekang Seberang Lor dan Mlekang
Seberang Kidul. Pada masa perkembangannya, Desa Mlekang mengalami kemajuan yang
cukup pesat dan mencapai kondisi gemah ripah loh jinawi, yaitu keadaan
masyarakat yang makmur dan sejahtera.
Dalam sejarahnya,
terdapat beberapa tokoh penting yang dianggap sebagai cikal bakal Desa Mlekang,
yaitu Mbah Mahesa Jenar (Mbah Klawu), Mbah Gajeh, Mbah Kiyai Amir, Mbah Ndekem,
dan Ki Ageng Nambangan (Sholaeman) yang dikenal sebagai sosok dermawan dan suka
menolong sesama.
Kisah ini menjadi bagian
penting dari identitas masyarakat Desa Mlekang dan diharapkan dapat terus
dilestarikan oleh generasi penerus.
Komentar
Posting Komentar